Layar tetap terkembang

Dalam sebuah organisasi seperti apapun bentuknya, bongkar pasang personil adalah hal sangat lumrah. Satu datang, satu pergi. Beberapa masuk dan beberapa lainnya keluar, sungguh sesuatu yang sangat wajar. Karena tak ada yang abadi di dunia ini, apalagi “hanya” sebuah organisasi. Perubahan yang terjadi, harus kita hadapi karena pada hakekatnya, kemajuan adalah identik dengan perubahan.

Dan ketika beberapa waktu yang lalu, salah seorang pimpinan memutuskan untuk melompat pagar karena dia melihat rumput yang lebih hijau, adalah hal yang tak perlu disikapi secara berlebihan, meski mungkin kita merasa kehilangan. Ia dulu datang membawa kebaikan, bercengkrama dalan suatu keakraban sebuah relasi, atasan dan bawahan. Dan kini ia memutuskan untuk melangkah keluar dari lingkaran, karena ia mengganggap akan mendapat sesuatu yang lebih di luar sana. Ia keluar dengan meninggalkan segala kemajuan yang telah teraih bersama.

Seseorang pengganti datang, membawa suatu program yang tentunya takkan pernah sama plek dengan pendahulunya. Ia masuk kedalam cyrcle relasi dengan kebisaan yang ia punya. Kita takkan tenggelam kawan, nahkoda baru kita ini ingin memancing ikan lebih lama, bahkan mungkin dengan dobel joran yang lebih banyak sehingga makin banyak ikan yang terangkat ke dalam geladak. Kita tetap berjalan , menentang arus dan angin tanpa rasa takut, karena telah terbit semangat baru yang dibawanya.

Pergantian adalah hal yang wajar, tak perlu dipermasalahkan, karena visi masih terpegang dan misi masih di jalur yang benar. Mari kita kembangkan layar lebih lebar kawan. Sang angin butuh tempat yang lebih luas untuk berpijak. Berlayarkah kapalku, kapal kita, sejauh keinginan dan ujung pelabuhan yang ingin digapai.Semangat!

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | Tag , | Tinggalkan Komentar

Merenung di keramaian, di ambang keraguan

Telah merenung kembali, ke arah yang benar namun tak diharapkan. Termangu dalam kedunguan yang terpelihara sedari dahulu kala. Melangkah melampaui khayalan yang digelembungkan, agar tak terlihat awan membara di sana. Prex lah!

Dan siulan bersahutan tak putus meski jatah makan siang masih antri seirama detak jarum jam, 3 putaran lagi. Terengah sang bandul, tergopoh tak sabar tuk menghardik dalam irama yang terstruktur dan terskenario dengan begitu rapi, selayaknya tas kresek yang tersetrika tanpa sengaja. Mblonyoh!

Mungkin, karena lidah begitu lihai meliuk, bak penari ular berpadu dengan penari perut, mendomblongkan sekelompok umat bodoh atau dibodohkan? Tapi sumpah! Mereka bukannya masa bodoh! Berdiri di keremangan terik mentari, tanpa lentera dan sesuap payung yang kan menjadi sia-sia.

Piring siapakah yang penuh terlebih dahulu? Atau numplak tersengajakan dari seberang tiang bendera……

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | Tinggalkan Komentar

Mbuh!

Tak pernah terbayangkan, semua ini terjadi begitu cepat…tak sempat aku berfikir, semuanya kan terjadi. Inilah kuasa Nya, yang tak mungkin terhalang ketika “kun faya kun” terucap sudah. Biarlah…..

Menggerayang dalam ketidak berdayaan, yang sejatingnya merupakan pembelajaran bagi mereka, bagi kita….

Tak semua yang tertimpa di alam pikiran yang telah tereliminasi kan terbuang percuma!

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | Tinggalkan Komentar

Engkau Di Mana

Dan saat engkau baru memalingkan muka akupun terkesiap dengan segera. Bayang yang tadi membayang, seketika hilang…tak tahu, entah terbenam atau melayang…

Tak kan terpikir, kemana engkau pergi sayang…Karena tekad yang membulat selalu melekat kemanapun engkau berjingkat…Bahkan…..

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | 1 Komentar

tahun diulang | Pesta!

Bagi mereka yang di sana….Malam menjelang 00:00 menjadi saksi akan eksistensi mendiami bumi dan meniduri segenap isinya! Menggelinjang di tengah mata yang jengah, kerna dipaksa bertapa dalam diam, di antara godaan ngantuk yang terkutuk! Meriahkan pesta ulang tahun bersama GarudaFood ! Membaca ceruk bisnis yang meliurkan segenap insan. Dalam keremangan laksana nyuluh welut di lumbur berkubang! Comberan!

Ulang Tahun, begitu berhargakah untuk dimeriahkan? Sebuah pesta berpora untuk mensyukuri usia yang kian berkurang? Seperti layaknya tarian selamat datang kematian. Dah cukup berbekal? Atau begitu menggila optimisme yang kau punya? Sebuah bangsa yang katanya garuda di dadaku menggaung, atau hanya selebar lapangan bola? Demi food, makan alias perut dowang yang menggelora dalam otak yang imut. makin mengkerut..? mbuh!

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | Tinggalkan Komentar

Tumpul, hatinya atau kalbuku?

Hati ini telah kehilangan tepi, yang terkikis oleh modernitas peradaban yang salah kaprah. Ketika harga diri begitu mudahnya ditukar dengan popularitas, segala cara pun terhalalkan sudah, melewati batas norma dan fatwa. Atau ketika dendam telah membutakan segala indra, menumpulkan sensitifitas kalbu dalam berempati, seandainya aku jadi dia, menghilang dalam semak tak bertuan.

Semakin banyak nilai ketimuran lebur, terinjak oleh mereka yang mengaku cikal bakal dan generasi penerus benua hijau. Betapa hati ini tak lagi terhenyak seperti halnya dua-tiga tahun yang lalu, ketika terhampar berita di depan mata, “polisi menangkap pelaku video mesum ambon dengan pisau” dan entah dengan sengaja ataupun tidak terbaca, merasuki pikiran merembes ke hati, namun tak ada getaran keterkejutan seperti waktu-waktu yang lampau.

Tumpulkan otak dan hati para pelaku? Atau begitu tebalnya kapal kalbu yang mengungkung hatiku? Entah….karena aku sendiri hanya bisa membisu…..Membiasakan kesan sesuatu yang tabu….

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | Tag , | Tinggalkan Komentar

Wisata Kalbuku

Dan ketika hati ini begitu beku, merana dalam ketidak berdayaan yang mengungkung segenap jiwa. Aku terkapar..dalam kebisuan, senyap….Enggan lepas segala penat. Raga begitu lelah, memikul hasrat jiwa yang sedemikian membuncah tak terkira. Dan akupun mendlosorkan diri dalam kesenyapan.

Raga ini butuh suntikan stamina lebh dari sekedar energy drink pasaran. Kalbu butuh eksotisme wisata hati yang menentrakan. Dan jiwa ini butuh perenungan yang mendamaikan. Mendaki puncak ketenangan sebagai pemulih segala lelah yang terbentuk dari kepadatan hari tanpa henti. Kini, saatnya segalanya meredam….dalam ketenangan hakiki….Untuk kembali…suatu saat nangi…..

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | Tag , , , | Tinggalkan Komentar

Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia

Salah satu rekomendasi untuk anda yang sedang mencari sebuah mobil keluarga ideal terbaik di indonesia. Toyota adalah salah satu produsen mobil yang sangat terkemuka dan sangat familier dengan image mobil keluarga semenjak mengeluarkan varian Kijang. Dari masa ke masa Toyota terus membangun dan mengembangkan segmen Mobil Keluarga dengan inovasi tiada henti, hal ini terbukti dengan terus munculnya varian Kijang dari era ke era sampai dengan saat Toyota mengeluarkan Toyota Kijang Innova yang memang dikembangkan untuk menjadi Mobil Keluarga Ideal Terbaik Indonesia.

Nah dari sedikit paparan diatas mungkin kita tak perlu bingung lagi ketika mencari varian mobil keluarga ideal terbaik Indonesia, sepertinya Kijang Innova adalah jawaban dari semua pertanyaan dan kebutuhan dalam pemenuhan family needs of transportation.

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | Tag , , , , | Tinggalkan Komentar

Rinduku, Gunungkidulku….

Luapan rindu yang membuncah dada, tak terlampiaskan tahun ini. Ritual membelai mu di kala takbir berkumandang tak kuasa ku lakukan. Aku terjebak dalam kewajiban yang sungkan diabaikan. Gunungkidul, senyummu selalu terbayang, melelehkan air mata ketidakberdayaan. Aku tersipu…..dalam kerinduan yang memuncak.

Kampung halaman, negerinya para pekerja keras, mengukir kebanggaan yang takkan luntur didera angin malam yang menguliti sanubari. Mengambang dalam angan, melepas segala lelah di pangkuanmu..kelak….suatu saat nanti…Aku kan terkapar dengan bahgia….mengupas segala lara….dalam belaian yang tak kan pernah terlupa….

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | Tag , , | Tinggalkan Komentar

Mendekam dalam diam

Ketika rambatan malas mengungkungku hingga ku tak sanggup menghirup udara kebebasan. Mengeruk segala semangat yang bersemayam di raga rapuhku. Tak sanggup ku menari, mendera dengan segala daya….Aku tak kuasa….benar-benar terkapar tak berdaya…..

Aku masih di sini…Tetap di sini….BUkan untuk menanti engkau datang dengan sejuta rindu…Semua sekedar ketidakmampuanku keluar dari kecrek kemalasan yang tak kunjung merapuh, hingga membawaku ke dalam rendaman ketidakberdayaan yang teramat dalam dan mengalir dalam ketenangan yang tak terukur.

Dipublikasi di kePekok-an Jiwa | Tag , , | 2 Komentar